Senin, 22 Februari 2010

Artikel Dhamma Gempa Bumi

Gempa Bumi Ditinjau Dari Sudut Pandang
Agama Buddha

Yaṅkiñci samudayadhammaṁ sabbantaṁ nirodhadhammaṁ”
Segala sesuatu yang timbul karena suatu sebab, didalamnya pun terdapat sebab yang membuat ia musnah kembali. (Dhammacakkappavattana Sutta) 

 By :Bhadra Vira

Sebagai makhluk hidup yang menghuni bumi ini, kita tidak asing lagi dengan peristiwa terjadinya gempa bumi. Gempa bumi sebagai peristiwa alam merupakan kejadian yang sering terjadi dan wajar. Kadang-kadang kita merasakan getaran gempa bumi yang lemah, kadang-kadang kuat. Bila gempa bumi menimbulkan getaran yang kuat sudah barang tentu akan memporak-porandakan segalanya yang ada di bumi ini. Seperti yang terjadi tahun ini, pada tanggal 12 September 2007 gempa berkekuatan 7,9 skala richter mengguncang Provinsi Bengkulu yang mengakibatkan puluhan orang luka-luka, puluhan rumah, kantor pemerintahan dan rumah sakit Bengkulu rusak parah. Gempa yang juga dirasakan hampir di seluruh pulau Sumatera, Jakarta, bahkan Singapura ini menimbulkan kerusakan bangunan di Bengkulu, Pagar Alam (Sumatera Selatan) hingga Padang, Sumatera Barat.


Sejak jaman dahulu, bila terjadi gempa bumi, masyarakat Indonesia menganggap bahwa itu sebuah pertanda atau peringatan bagi kita, entah pertanda baik atau buruk. Dalam memberikan tanggapan ini tergantung dari orang yang menginterprestasikannya. Tanggapan masyarakat tentu berbeda dengan tanggapan agama Buddha. Menurut tanggapan masyarakat, gempa bumi merupakan suatu legenda yang dianggap suatu kebenaran yang terus diyakini hingga sekarang ini. Sebagai contoh, menurut orang jaman dahulu, apabila terjadi gempa, itu pertanda bahwa ada lini/lindu yang bangun dari tidurnya. Pada saat itu masyarakat keluar dari rumahnya sambil meneriakkan; aya…aya…aya…dan seterusnya, agar lini mengetahui bahwa manusia di dunia ini masih ada. Dengan demikian gempa akan mereda atau hilang. Konon diceritakan bahwa lini adalah raksasa penghuni bumi, ketika ia bergerak saja akan menimbulkan gempa bumi yang sangat dahsyat. Oleh karena itulah dianggap sebagai gempa bumi. Ada lagi yang menganggap bahwa gempa bumi adalah suatu pertanda bahwa dunia ini sebentar lagi akan kiamat. Lain halnya dengan pandangan masyarakat Jawa. Menurut legenda yang terjadi di masyarakat Jawa, bumi ini disangga oleh seekor ular naga raksasa. Ular ini sangat besar sekali yang bernama Hyang Anantaboga. Karena merasa lelah dan mau merubah posisinya, ular ini bergerak sehingga menimbulkan bumi berguncang dan terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat sekali. 
 
Kita telah mendengar tanggapan yang terjadi di masyarakat. Karena itulah kita akan meninjau gempa bumi menurut pandangan agama Buddha yang akan memberikan pandangan dengan jelas sehingga akan menimbulkan keyakinan agama Buddha. Di samping itu, akan meluruskan terjadinya salah pandangan terhadap gempa bumi dan mengetahui dengan pasti sebab-sebabnya, sehingga kita tak akan terpengaruh dengan cerita atau legenda yang berkembang di masyarakat dan dapat membuktikan kebenarannya secara agama Buddha dengan jalan membandingkan pendapat masyarakat dengan agama Buddha. 
 
Agama Buddha sebenarnya sudah sangat lama mengetahui hal ini sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh Sang Buddha lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu, dan jawaban ini sangat tepat dengan ilmu pengetahuan. Dalam Mahāparinibbāna Sutta, Sang Buddha pada waktu itu menjelaskan kepada Ananda tentang sebab-sebab terjadinya gempa bumi. ”Ananda ada delapan alasan sampai terjadinya gempa bumi yang dahsyat itu. Apakah delapan sebab itu?
1. Bumi yang luas ini terbentuk dari zat cair, zat cair terbentuk dari udara, dan udara ada di angkasa. Apabila udara bertiup dengan dahsyatnya, maka zat cair terguncang. Keguncangan zat cair ini menyebabkan bumi bergetar.
2. Apabila ada seorang petapa brahmana yang memiliki kekuatan batin mahabesar, seorang yang telah memperoleh kekuatan untuk mengendalikan pikiran, atau sesosok dewata yang mahakuasa, yang mahatahu mengembangkan pemusatan pikirannya yang hebat pada unsur bumi ini, dan pada suatu tingkatan yang terbatas pada unsur zat cair, ia juga dapat mengakibatkan bumi bergetar.
3. Sang Bodhisatta turun dari surga Tusita dan masuk ke rahim (kandungan) seorang ibu dengan kesadaran penuh dan pikiran terpusat.
4. Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya dengan penuh kesadaran dan pikiran terpusat.
5. Sang Tathagata memperoleh penerangan agung, penerangan sempurna yang tiada bandingnya.
6. Sang Tathagata menggerakkan roda Dhamma yang gilang-gemilang.
7. Sang Tathagata mengambil keputusan untuk parinibbāna mengakhiri hidupnya.
8. Apabila Sang Tathagata tiba saatnya parinibbāna.

Inilah delapan sebab bagi terjadinya gempa bumi. Dari delapan sebab di atas, terjadinya gempa bumi tentu tidak dengan sendirinya, pasti ada sebabnya. Sebab gempa bumi menurut agama Buddha adalah hukum alam semesta yang ada dan mutlak berlaku di tiga puluh satu (31) alam kehidupan. Untuk mengetahui cara kerja hukum ini, di sini akan diuraikan menjadi lima yaitu:
1. Utu niyāma
 Hukum universal tentang energi, yang mengatur temperatur, cuaca, terbentuknya bumi, hancurnya bumi, tata surya, pertumbuhan manusia, binatang dan pohon, gempa bumi, gunung meletus, angina, hujan, halilintar, dan sebagainya.
2. Bīja niyāma
Hukum universal yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan yaitu bagaimana biji, stek, batang, pucuk daun dapat bertunas atau tumbuh, berkembang dan berubah.
3. Kamma niyāma
Hukum universal yang mengatur tentang perbuatan, hukum sebab-akibat, dan hukum moral.
4. Citta niyāma
Hukum universal tentang pikiran atau batin. Pikiran manusia sangatlah luas, beraneka ragam dan rumit sekali untuk diketahui dan dimengerti. Ada orang memiliki pikiran dan batin yang lemah, kuat, emosional, dan sebagainya. Bila pikiran dikembangkan, seseorang menjadi pintar, memiliki ingatan kuat, memiliki kekuatan batin, hingga mencapai kesucian.
5. Dhamma niyāma
Hukum universal tentang segala sesuatu yang tidak dapat diatur oleh keempat niyāma tersebut. Hukum tertib terjadinya persamaan dari suatu gejala yang khas, misalnya: terjadinya keajaiban alam pada waktu seorang Bodhisatta hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, pada saat ia akan terlahir untuk menjadi Buddha. Hukum gaya berat (gravitasi) dan hukum alam sejenis lainnya, sebab-sebab dari pada keselarasan dan sebagainya, termasuk hukum ini.

Dengan mengikuti cara kerja hukum semesta ini jelaslah bahwa sebab gempa bumi yang pertama diatur oleh hukum utu niyāma. Gempa bumi yang diakibatkan oleh sebab yang pertama, bila getarannya sangat kuat akan memporak-porandakan segala yang ada di muka bumi ini. Tetapi bila gempa bumi yang diakibatkan oleh sebab yang kedua sampai kedelapan, meskipun getarannya begitu kuat dan hebat serta dibarengi oleh petir yang menyambar-nyambar tidak akan menimbulkan kerusakan maupun korban jiwa.
 
Demikianlah uraian tentang gempa bumi ditinjau dari sudut pandang agama Buddha. Semoga dapat dimengerti dengan jelas dan dapat menambah wawasan yang luas terhadap Buddha Dhamma.

Sabtu, 06 Juni 2009

Artikel Dhamma 2

WELCOME TO MY BLOGSPOT BHADRAVIRA

Mengubah Stres Menjadi Sukses


“Tidak ada keberhasilan yang jatuh dari langit, semua itu harus diperjuangkan dan diusahakan. Jika kita tahu bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan, maka dalam kehidupan ini kita harus mampu berjuang untuk mencapai kesuksesan.”

Pernahkah Anda melihat bagaimana bunga teratai tumbuh di kolam? Daunnya melebar di atas air, kemudian bunganya tumbuh di pucuk dan akhirnya mekar. Kalau kita perhatikan sekilas bunga teratai ini seakan-akan tumbuh di atas air. Tetapi, kalau kita amati lebih dalam, di bawah air adalah lumpur, berarti teratai ini tumbuh dari lumpur dan air. Dengan tanah yang demikian kotor dan busuk, namun bunga teratai itu bisa mekar, bisa tumbuh dengan baik dan subur. Kalau kita renungkan, kehidupan kita juga sama seperti bunga teratai itu. Suatu ketika kita pasti pernah mengalami jatuh ke lumpur, ke kekotoran atau ke kegagalan. Hal itu terkadang membuat kita menjadi tidak bersemangat. Kalau kita membayangkan teratai tadi yang kemudian hanya mengeluh, kenapa saya jatuh di lumpur? Kenapa tidak jatuh ditanah yang subur? Kenapa saya tidak jatuh di tanah yang kering, tidak becek, dan tidak berakhir seperti sekarang? Kalau teratai itu hanya bisa mengeluh dan mengeluh, teratai itu selamanya tidak akan pernah tumbuh. Tetapi teratai tadi, ketika benihnya jatuh ke lumpur, dia justru menggunakan lumpur itu sebagai medianya untuk tumbuh. Dia tidak hanya tidak ingin pergi dari lumpur itu, tetapi dia menggunakan lumpur itu untuk tumbuh, besar dan berkembang.

Ketika seseorang jatuh ke dalam situasi yang tidak nyaman, seperti ke dalam keluarga yang tidak nyaman, terkadang kita ingin menyingkirkan ketidaknyamanan itu. Sebagai contoh, saat kita masih anak-anak, terkadang kita malas untuk pergi ke sekolah, namun orang tua kita marah-marah dan memaksa kita untuk masuk sekolah. Tentunya dengan perasaan yang sudah tidak enak, kita kemudian mengatakan kepada orang tua kita “Mama tidak seperti tetangga, mamanya teman saya kalau anaknya bolos boleh, kenapa saya tidak!” Lalu kemudian berpikir bahwa orang tua kita tidak baik dan kita ingin menukarnya dengan yang lebih baik, yang bisa memberikan ijin bolos dan lain sebagainya. Suatu kita kecil, kita pernah mengalami hal seperti itu, ingin menukar kondisi-kondisi yang ada. Seperti benih teratai yang sudah jatuh ke dalam lumpur lalu ingin lompat dan keluar dari habitatnya. Lalu ketika kita tumbuh besar, kita juga mengalami hal yang sama dalam berpacaran. Terkadang kita membandingkan pacar kita, baik dengan pacar orang lain ataupun pacar kita yang terdahulu. Kita kepingin tukar dan keluar dari habitat kita. Sama juga halnya ketika dewasa lalu bekerja, kita pun tak lepas dari berkeluh kesah dan membanding-bandingkan dengan tempat kerja yang lain. Misalnya, tempat kerja kita liburnya tidak banyak seperti kantor lain, atau gajinya kecil tak seperti kantor lain dan mungkin bosnya galak tak seperti kantor sebelah yang bosnya baik. Namun jarang kita berkeluh kesah jika pekerjaan kita lebih ringan dibanding tempat kerja lain. Semuanya selalu dilihat yang enak-enak saja. Kemudian di rumah tangga, punya pasangan hidup juga begitu. Terkadang ada dari kita yang membandingkan istrinya yang sudah tidak cantik lagi karena sudah beranak tiga dengan tetangga yang masih cantik dan belum punya anak. Lalu berpikir untuk memiliki tetangga tersebut atau menukar dengan istrinya. Kita punya pola-pola seperti itu.

Ada memang satu konsep bahwa kita harus keluar dari comfort zone (zona aman), kita harus berani mencoba sesuatu yang baru. Namun, ketika kita tidak punya kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru, mau tidak mau kita harus menghadapi dan menjalaninya. Contohnya, kalau sudah punya pasangan hidup dan beranak 3, masa kita mau cari yang baru lagi! Kalau sudah demikian, teori bunga teratai itu perlu kita gunakan. Jadi jika tak ada kesempatan untuk berganti lagi atau berubah dari situasi yang kita hadapi, lihatlah bunga teratai itu. Bahwa kalau kita sudah jatuh ke lumpur, gunakalah lumpur ini sebagai media untuk tumbuh dan tidak keluar dari habitat kita.
Kalau kita mengalami kegagalan, pertama kali yang kita lakukan adalah berusaha dan berusaha. Tetapi kalau sudah tidak bisa ya sudah, sekarang kita hadapi kesulitan itu. Kesulitan dalam rumah tangga, ekonomi, kesehatan dan apa saja mulai kita hadapi. Kalau kita menghadapinya, yang pertama kali kita harus punya adalah keyakinan yang kuat. Kita yakin bahwa hidup ini selalu berubah. Jika dulu kita pernah bahagia bekerja di satu tempat sekarang ini, kenapa kita tidak bisa bahagia di tempat yang sama seperti dulu? Karena memang hidup ini berubah. Suasana pekerjaan kita berubah, semua berubah karena hidup selalu berubah. Namun kadang-kadang kita mengunci diri kita, sehingga suatu ketika kita malah sulit untuk berubah dan merasa tidak nyaman kalau berubah, padahal hidup itu selalu berubah. Jika kita punya keyakinan kalau hidup ini berubah dan kita bisa berubah, walaupun mental kita mengalami kesulitan kita akan punya suatu kekuatan untuk tidak menyerah ataupun pasrah, tetapi tetap berusaha menghadapinya. Mempunyai keyakinan ketika kita sakit suatu saat kita pasti sembuh. Ketika kita sedang menderita suatu saat kita harus bahagia, ketika kita gagal suatu saat kita harus berhasil. Namun suatu ketika ini waktunya panjang sekali, bisa sebulan, tiga bulan, setahun, atau bahkan tiga kelahiran yang akan datang.
Ketika kita sudah mempunyai semangat seperti teratai tadi, yaitu semangat untuk berubah. Kita harus mendukung diri kita dengan informasi, memiliki informasi yang sesuai dan cocok untuk mengubah kenyataan. Misalnya, kalau kita sedang sakit, kita harus mempunyai informasi obat yang sesuai, hingga akhirnya kita bisa sembuh. Begitu juga kalau kita tidak nyaman dengan kantor kita, tetapi kita sudah tidak bisa pindah, maka minimal kita punya informasi yang baik, jelas dan positif. Seperti contoh, kantor kita gajinya kecil, bos jahat, tetapi teman-teman kantor kita baik-baik atau teman kantor kita jahat, gajinya juga kecil ditambah lagi bos tidak bersahabat, akan tetapi kantor inilah yang paling dekat dari rumah atau mungkin saja di kantor inilah kita bertemu dengan pasangan hidup kita. Setiap saat ada nilai positif pada semua kesulitan yang kita hadapi. Misalnya, jika kita punya pasangan hidup dan sudah beranak tiga atau sudah tua. lalu timbul kejengkelan dan kebosanan. Renungkanlah bagaimana pasangan hidup kita ini, mungkin dulu dia baik, cantik/ganteng, bertanggung jawab dan tetap setia, kalau sekarang sudah begini ya sudahlah terima saja.Terlebih lagi walaupun dahulu pasangan hidup kita sudah jelek, tidak setia dan bertanggung jawab, namun tetap ada sisi positif di balik itu semua, yaitu ketika yang lain meninggalkan kita hanya dialah yang setia dan mau dengan kita. Ada satu nilai positif yang harus kita cari sebagai benih teratai untuk tumbuh karena kalau kita sama sekali hanya melihat lumpur-lumpur dan tak ada satu pun benih, maka selamanya kita hanya hidup dan bernafas di dalam lumpur. Kita hanya selalu melihat sisi negatifnya saja. Tetapi, ketika kita melihat benih-benih teratai di sana dan di sini, barulah timbul semangat dan ternyata situasi yang paling tidak enak sekalipun ada keindahannya.
Jadi itulah tahap-tahap dimana kita dapat mengubah stres menjadi sukses, yang pertama kita harus yakin bahwa situasi bisa berubah. Yang kedua, kita selalu mengambil hikmah, keindahan, nilai positif di dalam ketidaksesuaian. Yang ketiga, kita berusaha untuk membesarkan benih teratai tadi, yaitu nilai-nilai positif di dalam situasi yang paling menderita tadi. Kalau kita melihat pasangan hidup kita yang mampu menerima kita apa adanya pada saat beberapa tahun yang lalu, maka itulah yang kita ingat. Kadang-kadang kita tidak ingat asalnya, yang kita ingat hanyalah saat ini, saat dimana dia menjengkelkan, jelek dan orang yang paling kita benci. Padalah dulu dia adalah orang yang kita cintai dan sayangi. Inilah titik yang mulai kita kembangkan dan bangkitkan menjadi benih teratai yang mungkin tumbuh. Kemudian ketika kita punya keyakinan bahwa hidup itu berubah dan melihat ada benih kebaikan atau potensi untuk menjadi baik, lalu kita berjuang untuk memperbaiki situasi, maka tahap yang keempat yaitu mengembangkan perbuatan baik, berbuat baik dengan badan, ucapan dan pikiran.
Sekarang ini banyak sekali orang yang sudah mempelajari manajemen untuk berusaha memperbaiki hidupnya, mulai dari manajemen usahanya, kesehatan dan apa saja. Tetapi, mengapa hasilnya tidak ada? Kita sudah bekerja keras, namun tidak ada hasilnya. Kita sudah berusaha konsultasi mengenai rumah tangga, tetapi tetap tidak bahagia. Mengapa? Karena hidup bukan hanya membutuhkan prilaku manajemen saja, tetapi kita juga kebajikan. Pada akhirnya kebajikan inilah yang akan mengkodisikan kita bertemu dengan sesuatu yang tepat. Misalkan, kita sudah berusaha mencari dokter yang baik untuk penyakit yang kita derita, berusaha mencari sumber-sumber informasi dari buku, internet dan lain-lain. Kemudian kita berbuat baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran, sehingga akhirnya mungkin kita bertemu dengan dokter yang cocok dan obat yang sesuai.
Tetapi kalau kita hanya berbuat baik saja ini pun kurang. Sudah banyak kita dengar di masyarakat, banyak orang yang sudah berbuat baik dan melakukan bakti sosial kemana-mana, tapi mengapa hidupnya tidak bahagia? Karena hanya berbuat baik saja dan tidak didukung dengan manajemen yang baik pun tidak berhasil. Perbuatan baik dengan pikiran, ucapan dan perbuatan adalah sungguh penting, bahkan nilainya 50 persen. Sedangkan manajemen tadi yang mengatakan bahwa kita harus punya keyakinan bahwa hidup itu bisa berubah, lalu mencari nilai positif dari setiap kesulitan yang kita miliki dan berusaha mengembangkan nilai positif yang sudah ada, semua itu nilainya juga 50 persen. Jadi kalau ini semua digabungkan, maka kita punya kesempatan untuk tumbuh seperti bunga teratai yang jatuh ke lumpur, lalu akhirnya tumbuh dan berkembang. Tetapi, kalau kita tidak menggunakan kesempatan ini, yaitu 50 persen manajemen dan 50 persen berbuat baik, maka kita sulit untuk bangkit dari segala macam kegagalan.
Karena itu ketika kita mengalami kesulitan, ketika kita sedang mengeluh, cobalah kita melihat bunga teratai, sudahkah kita menggunakan filosofi bunga teratai? Kalau sudah, bisakah kita menggunakan cara hidup bunga teratai untuk bangkit dari kegagalan. Kalau kita bisa menggunakan itu, sesungguhnya di dunia ini tak akan ada lagi kesulitan yang tidak bisa kita hadapi. Sesungguhnya hidup adalah perjuangan, kesuksesan harus diperjuangkan, sila-sila harus diperjuangkan. Tidak ada keberhasilan yang jatuh dari langit, semua itu harus diperjuangkan dan diusahakan. Jika kita tahu bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan, maka dalam kehidupan ini kita harus mampu berjuang untuk mencapai kesuksesan. Karena itu ingat dan renungkanlah tentang teratai itu baik-baik. Jika kita mau berjuang tanpa harus keluar dari lingkungan kita, dan menambah berbagai upaya serta kebajikan setiap waktu, setiap saat yaitu melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Dengan demikian kita bisa keluar dari kesulitan dan penderitaan. Kemudian kesuksesan pun dapat kita raih dan perjuangkan, karena hidup untuk suksus memang harus diperjuangkan. (SP : s/Parkit)
Sumber :
Majalah Sinar Padumuttara
Edisi 003, Okt - Nov 2008

Bhadra Vira

Mengenai Saya